Soekarno, Presiden pertama RI

Soekarno, Presiden pertama RI, 1945 - 1966, lahir di Blitar 6 Juni 1901. Dengan ideologi pembangunan di atas kaki sendiri.

Pramoedya Ananta Toer

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Gesang

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kartini

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

RD Saleh

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Monday, June 11, 2012

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer (lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 – meninggal di Jakarta, 30 April 2006 pada umur 81 tahun), secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.
Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen serta buku di sepanjang karier militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali ke Indonesia ia menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Hal ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno.
Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, kemudian pada saat yang sama, ia pun mulai berhubungan erat dengan para penulis di Tiongkok. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia. Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Tiongkoknya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau Buru di kawasan timur Indonesia.

Selain Negarawan, Bung Karno Juga Seniman Ulung

JAKARTA - Di ulang tahunnya yang ke-111, keluarga besar Ir Soekarno meluncurkan pagelaran seni bertajuk Dharma Gita Maha Guru 2012, di Kampus Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta.

Kegiatan ini juga dihelat dalam rangka peringatan hari lahirnya Pancasila yang jatuh pada 1 Juni. "Bulan Juni ini dikenal sebagai bulannya Bung Karno. 6 Juni beliau lahir, 11 Juni berdirinya Universitas Bung Karno, dan 21 Juni beliau wafat," ujar putri Bung Karno, Rachmawati Seokarnoputri, di Aula UBK, Rabu (6/6/2012).

Pagelaran seni ini, kata Rachmawati, sebagai bentuk syukuran atas apa yang telah dipersembahkan Bung Karno kepada bangsa Indonesia. Dirinya berharap kegiatan ini dapat memberikan tontonan dan tuntunan yang baik bagi masyarakat.

"Terutama bagi kaum muda. Karena sesuai dengan pasal 31 Ayat 1 UUD 1945 bahwa pendidikan mutlak dibutuhkan untuk menyejahterakan dan mencerdaskan masyarakat," sambungnya.

Selain itu, kata Rachmawati, publik juga layak meneladani nilai estetika Bung Karno, selain sebagai negarawan dan jagoan politik. Sebagai contoh, pada tahun 1930-an Bung Karno pernah membuat 11 karya untuk pertunjukan tonel (sejenis teater) saat dibuang di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kendati demikian, Rachmawati mengaku menyayangkan belum adanya itikat baik dari pemerintah orde baru hingga SBY untuk mencabugt Tap MPRs Nomor 33 Tahun 1967 tentang pelarangan ajaran bung Karno.

"Satu sisi Bung Karno dinilai sebagai proklamator tapi disisi lain beliau terbelenggu oleh Tap MPRs No.33 itu. Dari jamannya Soeharto sampai terakhir era Mega sekalipun. Saya sudah meminta untuk pencabutan tap MPRs itu tapi enggak juga dicabut," tutupnya.